Masyarakat Gunungsindur Tuntut Batasi Operasi Truk Tambang

oleh -97 views

TRANSMETRO.ID BOGOR
Gunungsindur – Banyaknya korban laka lantas akibat truk tronton di wilayah Parungpanjang dan Gunungsindur menjadi penyebab masyarakat di wilayah tersebut bergerak menuntut pembatasan operasi truk hasil tambang.

“Kami tidak akan tinggal diam membiarkan anak kami terancam oleh truk besar seperti tronton saat mereka pergi dan pulang sekolah? Ingat, jika alasan para sopir karena perut yang lapar, maka alasan kami menolak karena nyawa yang terancam. Kami tidak akan mempertaruhkan nyawa kami agar para sopir kenyang,” tegas Haerudin, warga setempat kepada awak media, Senin (20/1/2020).

Haerudin bersama masyarakat tegas menolak jika terus menerus wilayahnya di jadikan lintasan truk pengangkut hasil alam tersebut. Menurutnya, hanya kerugian dan sengsara yang selama ini didapatkan, kalau dibiarkan beroperasi terus, dampak buruk akan menimpa masyarakat setempat.

“Debu dan karbon yang bertebaran bebas di udara itu sangat mengganggu pernafasan warga. Jalan raya rusak karena muatab tronton melebihi kapasitas jalan. Jalan rusak, masyarakat tidak nyaman beraktivitas. Angka kecelakaan terus meningkat, seperti belum lama terjadi di Parungpanjang,” terangnya.

Masih kata Haerudin, di sepanjang jalan tersebut banyak sekali sekolah SD, SMP, maupun SMA. Beberapa bulan lalu ada siswa selolah warga Gunungsindur yang tewas terlindas truk. Maka kami akan sudahi penderitaan ini.

Seorang warga lainnya, Desi yang juga aktifis di salah satu universitas swasta di Jakarta menyuarakan terkait Perda No. 5 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan Perempuan sudah mengatur bahwa Kabupaten Bogor itu menjadi kabupaten yang layak anak.

“Bagaimana bisa diwujudkan kalau truk menjadi ancaman anak-anak di wilayah kami? Padahal Kabupaten Bogor pernah jadi Kabupaten juara II Nasional sebagai Kabupaten layak anak. Malu dong kalau anak-anak Gunungsindur masih jadi ancaman para sopir truk,” imbuhnya.

Selain karena perda tersebut, ia juga mengatakan banyaknya sopir truk yang tidak memiliki surat izin mengemudi (SIM). “Masalah lain adalah banyaknya sopir yang suka ngebut saat mengemudi truk. Tidak sedikit para sopir masih ABG yang mengemudi truk besar. Bagaimana kita tidak khawatir dengan fenomena ini? Maka saya harap agar pemerintah bisa mendengarkan aspirasi warga agar melarang truk tambang beroperasi pada siang hari,” pungkasnya.

Reporter : Iwan
Redaktur : Didi S

block ID 8589 : transmetro.id

Tentang Penulis: transmetro.id

Jendela Informasi Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *