Dinas Pariwisata, Kurang Melirik Peninggalan Situs Batu Kujang

oleh -74 views

SUKABUMI.TRANSMETRO.ID–Secara administratif terletak di Kampung Tenjolaya Girang, Desa Cisaat, Kecamatan Cicurug. Kabupaten Sukabumi Provinsi Jawa Barat.

Situs ini terletak di Lereng Gunungsalak di areal yang bergelombang. secara astronomis terletak pada koordinat 6°45’09 LS dan 106°44’39” BT.

Area situs dibatasi aliran Sungai Cisaat di sebelah timur, sebelah utara berupa lahan pertanian, pertemuan aliran Cileueur dan areal persawahan di sebelah barat,Dan pertemuan aliran Sungai Cisaat serta dan Cileueur di sebelah selatan.

Situs Batu Kujang I dan II merupakan situs yang permukaan tanahnya miring, makin ke utara makin tinggi. Di beberapa bagian lahan dibatasi struktur batu sehingga lahan ini membentuk punden berundak. Bentuk lahan yang demikian terbagi menjadi dua, bagian pertama yang terletak di bagian timur situs dan bagian barat dari situs. Kedua bagian itu dibatasi oleh tanggul batu.

Pada bagian paling bawah atau paling selatan dari bagian pertama situs terdapat tiga menhir berukuran tinggi 79 cm, 67 cm, dan 60 cm.

Teras di atasnya tidak terdapat tinggalan arkeologis. Di teras berikutnya terdapat 3 menhir berjajar dengan ukuran tinggi 92 cm, 52 cm, 95 cm. Selain itu juga terdapat batu datar berbentuk tidak beraturan. Di teras keempat dan kelima tidak ditemukan tinggalan arkeologis.Bagian kedua dari situs mempunyai bentuk lahan yang hampir sama dengan lahan bagian pertama.

Teras pertama terdapat hamparan batu berukuran panjang 135 cm, lebar 120 cm, dan tinggi 6 cm. Di sekitar hamparan batu tersebut terdapat menhir berukuran tinggi 79 cm; batu datar berukuran panjang 120 cm, lebar 34 cm, dan tebal 11 cm; dolmen berukuran panjang 116 cm, lebar 52 cm, dan tebal 13 cm; dan hamparan batu berukuran 200 cm x 160 cm. Di teras kedua terdapat batu alam.

Di teras selanjutnya terdapat menhir berukuran tinggi 147 cm, menhir yang lain berbentuk bengkok berukuran tinggi 105 cm. Di teras selanjutnya terdapat 3 menhir dan batu datar. Ukuran tinggi masing-masing menhir adalah 53 cm, 130 cm, dan 90 cm, sedangkan batu datar mempunyai ukuran 90 m x 60 cm.

Di teras ketiga terdapat menhir berukuran tinggi 71 cm, dan dua batu datar yang masing-masing berukuran 90 cm x 37 cm dan 54 cm x 46 cm. Selain itu juga terdapat struktur batu melingkar dengan menhir berukuran tinggi 90 cm. Di teras keempat atau yang tertinggi terdapat struktur batu melingkar berdiameter 2m yang di tengahnya terdapat menhir dengan bentuk menyerupai kujang setinggi 208 cm. Menhir ini oleh masyarakat disebut Batu Kujang.

Di sebelah timur batu kujang terdapat menhir berukuran tinggi 52 cm. Di teras ini pula terdapat batu alam berjajar yang masing-masing berukuran 205 cm x 57 cm x 13 cm; 173 cm x 24 cm x 8 cm; 287 cm x 67 cm x 9 cm. Tinggalan lain di teras ini adalah batu jolang berukuran 180 cm x 107 cm dengan kedalaman lubang 14 cm. Selain di areal berpagar di lokasi ini terdapat batu alam berukuran 180 cm x 75 cm yang oleh masyarakat disebut batu mayat. Tinggalan arkeologis lainnya adalah menhir setinggi 95 cm.

Ketika transmetro mengunjungi situs batu kujang dengan akses jalannya masih rusak dan perlu di perbaiki,maka pemerintahan Desa Cisaat Kecamatan Cicurug agar bisa memperhatikan jalan akses menuju situs batu kujang dan batu kursi agar lebih wisata dari luar daerah mudah untuk mengunjungi tempat tersebut.

Agar perawatan situs batu kujang terlihat bersih dan rumput rumput ilalang pun tidak terlalu tinggi dan kurang rapi Pihak Dinas Pariwisata dan pemerintahan kabupaten sukabumi agar bisa memperhatikan peninggalan situs batu kujang dan batu kursi.

“Warga kampung Tenjolaya girang “Mengatakan,” semenjak situs ini ada kami slalu bersih bersih dan memotong rumput ilalang yang panjang panjang

“Harapan kami”,Smoga Dinas Pariwisata Kabupaten Sukabumi dan Desa Cisaat bisa membantu perawatan peninggalan situs batu kujang dan akses jalan.

Berdasarkan amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 itu,Pemerintah mempunyai kewajiban melaksanakan kebijakan untuk memajukan kebudayaan secara utuh untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Sehubungan dengan itu, Seluruh hasil karya bangsa Indonesia,Baik pada masa lalu,Masa kini, maupun yang akan datang, perlu dimanfaatkan sebagai modal pembangunan.

Sebagai karya warisan budaya masa lalu, Cagar Budaya menjadi penting perannya untuk dipertahankan keberadaannya.

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya sudah tidak sesuai dengan perkembangan, tuntutan, dan kebutuhan hukum dalam masyarakat sehingga perlu diganti, untuk itu Pemerintah pada tahun 2010 menerbitkan UU 11 tahun 2010 tentang
Cagar Budaya dalam sebagai sumber daya budaya memiliki sifat rapuh, unik, langka, terbatas, dan tidak terbarui.

Dalam rangka menjaga Cagar Budaya dari ancaman pembangunan fisik, baik di wilayah perkotaan, pedesaan, maupun yang berada di lingkungan air, diperlukan pengaturan untuk menjamin eksistensinya. Oleh karena itu,Upaya pelestariannya mencakup tujuan untuk melindungi, mengembangkan, dan memanfaatkannya. Hal itu berarti bahwa upaya pelestarian perlu memperhatikan keseimbangan antara kepentingan akademis, ideologis, dan ekonomis.

Untuk memberikan kewenangan kepada Pemerintah dan partisipasi masyarakat dalam mengelola Cagar Budaya, dibutuhkan sistem manajerial perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang baik berkaitan dengan pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan Cagar Budaya sebagai sumber daya budaya bagi kepentingan yang luas.

Reporter : H Rahmat.

Editing   : Tatang Sutendi.

block ID 8589 : transmetro.id

Tentang Penulis: transmetro.id

Jendela Informasi Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *