Potret Rumah Bilik Bambu Umi Entin Menghawatirkan, Belasan Tahun Umi Hanya Bisa Berharap

oleh -107 views

Sukabumi, transmetro.id, Jum’at, 26 Maret 2021, sumber.benten.indeksnews

TRANSMETRO,-Potret buram kehidupan yang dirasakan janda paruh baya bernama Entin S (51) warga Kampung Dangdeur RT 027/008, Desa Cikaret, Kecamatan Kebonpedes, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Umi Entin sapaan akrab janda tua ini, saat ini tinggal bersama cucunya dan anaknya Wildan (36) di rumah berbilik bambu yang hampir roboh akibat termakan usia.

Mirisnya ketika hujan turun, bocor disetiap sudur rumah, apalagi bagian sudur dapur dan jamban (kamar mandi) sudah ambruk tak berdinding.

“Kondisi rumah umi sudah belasan tahun seperti ini, sudah tidak aneh lagi setiap kali turun hujan deras apalagi dibarengi angin kencang, bocor air hujan dari atas atap di setiap sudut rumah. Lampu listrik juga baru empat bulan ini, itupun ngambil dari KWH tetangga sebelah dengan iuran seikhlasnya. Sebelumnya, pake lampu minyak atau lilin untuk menerangi pada malam hari saja,” kata Umi Entin, saat disambangi di rumahnya, Kamis (25/03/21).

Ironisnya lagi, Umi Entin mengaku dari dulu belum pernah tersentuh bantuan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), baik dari Pemerintah Desa (Pemdes), maupun Pemerintah Kabupaten (Pemkab) bahkan Program Pemprov Padahal. Meski sudah pernah meminta ketua RT untuk diajukan. Akan tetapi, hanya jawaban “umi mah masih keneh tiasa usaha” (umi masih bisa kerja).

“Umi tidak mampu untuk memperbaiki kondisi kerusakan rumah, cuma bisa berdoa dan tawakal dengan kondisi rumah yang seperti ini. Untuk makan sehari-hari pun, menunggu panggilan tetangga untuk mencuci pakaian dengan upah Rp 20-50 ribu. Itupun kalo ada,” papar Umi Entin.

Adapun bantuan program pemerintah yang masih dirasakan Umi Entin sampai saat ini. Dari Program Keluarga Harapan (PKH) sebesar Rp 350 ribu/ tiga bulan. Tetapi untuk tahun ini, Umi mengaku belum ada kabar bakal menerima pencairan PKH, padahal sudah waktunya.

“Alhamdulillah ada bantuan dari PKH sebanyak 350 ribu dari dulu, tapi udah dua bulan belum ada pencairan. Sekarang dikolektifkan untuk pencairanya, kalo dulu dikantor pos dan harus mengantri. Meski tidak sama nominalnya dengan penerima PKH yang lain, umi hanya bisa bersyukur,” aku Umi.

Umi Entin berharap, ada uluran tangan dari penggerak sosial maupun pemerintah setempat, untuk bisa menoleh kondisi sebenarnya dan membantu perbaiki rumahnya yang dirasakan sudah pada keropos sebagian besar kontruksi rumah bilik bambunya ini.

“Umi hanya bisa berharap dan berdoa saja, semoga ada hamba Allah maupun dari pihak pemerintah yang membantu perbaiki rumah ini. Agar ketika hujan tidak lagi bocor dimana-mana,” harap Umi Entin.

Ahmad Hilal (57) tetangga Umi Entin merasa perihatin dan iba, dengan kondisi rumah janda paru baya yang sudah sangat memperihatinkan. Disini peran pemerintah daerah dan masyarakat sangat dibutuhkan. Untuk bisa membantu merenovasi rumahnya yang masuk katagori rumah tidak layak huni (RTLH).

“Setau saya umi ini asli disini, sejak suaminya tidak ada, umi itu seorang ibu yang tangguh. Semoga saja apa yang menjadi harapan umi bisa terwujud untuk bisa merenovasi rumah yang sudah memprihatinkan,” tandas Ahmad.

Red/hep

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *