Surat-surat Dirampok, Warga Cicantayan Tidak Bisa Pulang Setelah 5 Tahun di Saud

oleh -175 views
Gambar Ilustrasi

Surat-surat Dirampok, Warga Cicantayan Tidak Bisa Pulang Setelah 5 Tahun di Saudi

Sukabumi, transmetro.id, Senin, 26 April 2021, Laporan Reporter, Didi Sukardi.

TRANSMETRO,-Naas nasib Dedeh Patimah binti Ukat, warga Kp Cimuncang Rt 05/4 Desa Sukadamai Kecamatan Cicantayan Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat.

Ia tidak dapat pulang setelah 5 tahun di Saudi karena pasport dan visa serta surat lainnya dirampok oleh orang tak dikenal hingga pihak KBRI sendiri kesulitan dalam mengurusnya.

Sementara untuk mengurus kepulangan Dedeh sejak 25 Februari 2021 hingga berita ini diturunkan, keluarga Dedeh makin gelisah karena belum ada upaya meyakinkan dari KBRI untuk membantu kepulangan Dedeh dari Saudi setelah 5 tahun menjadi Pembantu Rumah Tangga (PRT).

“Saya dan keluarga sangat hawatir dengan kondisi istri saya (Dedeh-Red) yang kini bekerja paksa tanpa legalitas setelah visa dan pasport-nya raib dirampok oleh oknum mengaku dari syariah Mu’een,” ungkap Duduh Suhendar, suami Dedeh ditemui di kediamannya, Minggu (25/4/21).

 

Duduh dan keluarga mengaku makin hawatir karena belakangan Dedeh kembali mendapat telephon mengaku dari Syarika Mu’een padahal Dedeh masih trauma dengan orang Syarikan Mu’een atas insiden perampokan yang pernah dialaminya.

 

Selain itu, menurut Duduh, Dedeh yang saat ini bekerja tanpa legalitas identitas diri, akan dibawa pindah oleh majikan nya ke tempat yang makin asing, sehingga dikhawatirkan hal ini mengguncang jiwa Dedeh karena makin pesimis akan kepulangannya.

 

Diketahui dari pemberitaan terdahulu, Dedeh Patimah, pekerja migran indoneaia (PMI) asal Kecamatan Cicantayan Kabupaten Sukabumi Jabar tersebut mengalami kesulitan pulang dari Riyad Arab Saudi ke Tanah Air karena visa dan pasort serta surat lainnya raib dirampok orang tak dikenal yang mengaku dari Syarikah Mu’een pada 3 tahun silam.

 

Dedeh diproses pemberangkatan pada tanggal 10 Oktober 2016 oleh sebuah PT di Sukabumi dan diterbangkan tanggal 27 Oktober 2016. Awalnya selama dua tahun, Dedeh bekerja di Saudi tidak ada kendala apapun, namun pada saat habis kontrak, terjadi musibah tersebut, hingga Dedeh dipaksa untuk memperpanjang kontrak selama enam bulan, dan Dedeh pun terpaksa menuruti apa yang dikatakan orang kantor syarikah dengan dalih kontraknya diperpanjang oleh sistem secara otomatis.

 

Setelah perpanjangan kontrak 6 bulan tersebut, Dedeh minta izin pulang ke Indonesia namun tidak diijinkan pulang dan kembali dipaksa untuk menambah kontrak, namun Dedeh tidak mau dan tetap ingin pulang ke indonesia, setelah itu, Dedeh hilangan kontak dengan keluarganya selama 2 bulan lebih.

 

Wartawan kami yang berhasil melakukan wawancara melalui ponsel dengan Dedeh mendengarkan langsung keluhannya tentang sulitnya pulang ke Indonesia, bahkan untuk keluar rumahpun tidak diijinkan sama sekali oleh majikan.

 

“Saya sempat hilang kontak dengan keluarga, dikarenakan saat itu saya memaksa majikan untuk keluar kerja dan berangkat ke Syarikah karena saya mau pulang ke Indonesia, hingga saya tidak diantarkan ke kantor Syarikah dan disuruh naik bis. Setiba di halte bis, saya menghubungi orang kantor Syarikah Mu’een minta tolong untuk jemput dan disuruhnya saya nunggu katanya akan ada yang jemput.

 

“Setelah beberapa saat saya menunggu datang 3 orang berkulit hitam mengaku dari Syarikah Mu’een yang akan menjemput saya, namun mereka merampas tas saya yang berisi uang gajih saya 14.400 Reyal (setara +/- 50 juta rupah-Red) hasil kerja selama satu tahun dan 6 telephon genggam sebagian dapat hadiah dari majikan juga perhiasan dan dokumen termasuk foto kopi pasfor dan foto kopi visa,” terang Dedeh.

 

Menurut Dedeh, dirinya dibawa ke suatu tempat yang tidak tau namanya,  di situ disekap di sebuah rumah selama 10 minggu dan dipaksa bekerja di orang Arab selama enam bulan tanpa mendapat gaji.

 

“Sejak itu sya terus berusaha menghubungi suami saya dan meminta tolong karena dapat musibah di sini, lantas saya kabur dari majikan itu karena tidak digaji sama sekali, lalu saya ditolong oleh orang Indonesia yang sama merantau, saya diberi kekerjaan lagi sebagai pembantu rumah tangga (PRT),” lanjut Dedeh.

 

“Saya di sini sudah 5 tahun lebih, saya pengen pulang ke Indonesia. Upaya melalui sponsor dan PT yang memberangkatkan saya, tidak membuahkan hasil. Suami dan anak saya sudah beberapa kali datang ke PT untuk minta tolong supaya saya bisa pulang tapi tidak ada tanggapan sama sekali. Saya tidak bisa pulang sendiri karena semua data identitas diri saya dirampas oleh perampok. Saya minta tolong kepada Pemerintah Indonesia melalui KBRI agar kiranya mau membantu saya kembali ke Tanah Air,” keluh Dedeh, memelas.

 

Hingga berita ini diturunkan, pihak keluarga Dedeh, terus berupaya untuk kepulangan Dedeh dengan memohon bantuan para pihak termasuk KBRI di Saudi Arabia agar secepatnya menjemput Dedeh di rumah majikan yang belakangan sudah diketahui alamatnya.

Editing Frans Hp

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *