Detik-detik Penangkapan Pria yang Siksa Janda Pujaan di Medan: Pelaku Selama Ini Merasa Kebal Hukum

oleh -102 views

Transmetro – Pelaku penyekapan dan penganiayaan terhadap wanita di Medan, Sumatera Utara ditangkap tak lama setelah aparat kepolisian menerima laporan.

Beberapa jam setelah menerima laporan, Polsek Medan Area akhirnya tiba di lokasi kediaman Kepling II Tegal Sari Mandala (TSM) II tempat pelarian korban.

Seorang petugas piket Polsek Medan Area, Gabe akhirnya membawa korban Rina Lesmana Boru Simanungkalit bersama ayah korban beserta cucunya Dian didampingi wartawan dan warga menjemput pelaku.

Pelaku yang tampak tertidur pulas, tak menyadari kedatangan polisi.

Pelaku pun akhirnya diamankan polisi.

Pelaku Maniur Sihotang yang selama ini merasa kebal hukum, seakan tidak percaya ketika diboyong ke Polsek Medan Area.

“Tolonglah pak hubungi keluargaku. Biar kita bicarakan pak, jangan masukkan saya ke sel penjara,” ucap pelaku memelas dan berusaha memberikan iming-iming diduga uang.

Tanpa banyak pikir, personel Polsek Medan Area lalu memboyong pelaku.

Sembari menginterogasi pelaku, petugas Polsek Medan Area juga memintai keterangan korban Rina Simanungkalit, ayah korban, dan anak korban.

Usai mengumpulkan data dan keterangan, korban akhirnya visum di RS Bhayangkara Medan Jalan Wahid Hasyim.

Setelah divisum, korban tampak trauma akibat luka berat yang diderita.

Pihak keluarga memutuskan membawa korban Rina Boru Simanungkalit ke RS Mitra Medika Amplas untuk rontgen dan rawat inap.

Pengakuan korban

Rina Lesmana Boru Simanungkalit mengungkap awal mula tindak pidana kekerasan, penganiyaan, dan penyekapan yang dialaminya.

Ibu beranak 2 berstatus single parent (janda) ini mengaku kerap mengalami siksaan dari pelaku Maniur Sihotang (43), seorang pria paruh baya warga Jalan perguruan Mandala, Kota Medan, yang tidak lain adalah teman dekat korban.

Setelah berhasil diselamatkan dan berada di rumah kepala lingkungan 2 Tegal Sari Mandala 2 di Jalan Tangguk bongkar 1, korban menceritakan bagaimana dirinya bisa selamat dari ancaman kematian, akibat kekerasan dan penyekapan yang dilakukan pelaku Maniur.

Dengan luka lebam di seluruh tubuh dan bagian wajah tepatnya di pipi sebelah kiri dan kepala berlumuran darah, serta masih terikat kalung rantai besi di lehernya, korban menangis histeris atas kejadian yang dialaminya.

“Saya kemari mau melapor pak dan meminta perlindungan, ada teman pria saya menyekap dan menyiksa saya secara sadis. Serta menegaskan ingin membunuh saya. Saya lari ketika pelaku saya lihat tertidur,” kata Rina Simanungkalit sapaan akrabnya.

Korban mengungkap penyiksaan terhadapnya dilakukan secara terus menerus sejak dirinya menolak perasaan dan ajakan jalinan asmara pelaku Maniur untuk berumah tangga pada pekan lalu di sebuah kos-kosan Jalan Tangguk Bongkar, yang merupakan rumah warisan ibu pelaku.

Selain kasar, lanjut korban, pelaku Maniur juga diduga pengguna narkoba dan hal itu baru diketahui korban beberapa bulan kemudian.

Karena itu, korban mulai membuat jarak hubungan mereka.

Tepat pada Selasa (20/4/2021), penyiksaan keras dan penyekapan dialami korban di rumah kos-kosan tersebut.

“Beberapa bulan lalu, saya jaga jarak dengan pelaku. Tetapi pelaku nekat, mendatangi rumah orangtua saya dan menculik anak saya bernama dian (7) serta menjadikan anak saya sandera agar menuruti keinginannya. Bahkan anak saya Dian mengalami kekerasan dengan ditunjang dari atas lantai 2,” kata korban.

Korban Rina Boru Simanungkalit memaparkan, insiden kekerasan kepada anaknya berhasil dilaporkan ayahnya kepada pihak kepolisian.

Akan tetapi, pelaku semakin nekat melakukan penyiksaan dan bahkan akan membunuh seluruh keluarga korban, jika Rina Boru Simanungkalit tidak mau mencabut laporannya dan berdamai dengan pelaku.

“Saya takut sekali pak, tolong pak dampingi saya mengadu ke polisi. Kepala saya pecah, kaki dan sejumlah tubuh saya di tikam pakai obeng dan tang. Bahkan punggung saya dihantam pakai rantai besi ini,” ujar korban sembari menunjukkan bagian lebam serta rantai besi yang terkunci gembok, melekat di lehernya layaknya seekor binatang.

Ditanya kepada Rina, keberadaan kunci gembok rantai besi yang melekat dilehernya, Rina mengaku, kunci disimpan di bagian saku kantong celana pelaku.

Dengan berbagai macam cara, korban berhasil meloloskan diri hingga dirinya tidak memifikirkan lagi membuka gembok tersebut.

Korban hanya fokus menyelamatkan nyawanya.

“Kuncinya dikantong sakunya pak. Biar saya ga lari. Pas dia terlelap tidur, saya kabur dengan rantai besi yang terkunci gembok dileher,” pungkasnya.

Dilokasi yang sama, Ayah Korban Sihar Simanungkalit (64) yang sebelumnya dijemput warga dari kediamannya di jalan Tangguk Bongkar 8 Tengah, Mandala, membenarkan kekerasan yang dialami putrinya.

Sihar Simanungkalit mengatakan, perilaku bejat pelaku diduga akibat mengonsumsi narkoba nekat mengancam dirinya serta melakukan kekerasan terhadap cucunya Dian.

“Kami orang miskin, mereka orang kaya pak, dulu cucu saya disiksa, dan laporan kami ke pihak polisi disuruh cabut. Boru saya ini bodoh pak, mau dia mencabut karena takut. Kalau saya sudah siap mati untuk berjuang,” kata Sihar menangis histeris.

Tak hanya itu, akibat penyekapan itu membuat nasib dan masa depan cucunya hancur.

Putri tersebut awalnya bekerja disarang walet dan biasany pulang kerja ke rumah Sihar di Tangguk Bongkar 8.

Belakangan ini, korban dilarang pulang kerumahnya oleh pelaku.

“Saya sudah tua pak, anak korban 2, sementara saya tidak bisa bekerja lagi. Akhirnya, cucu saya putus sekolah,” katanya.

Sihar berharap keadilan berpihak pada putrinya, agar kasus kekerasan dan penyekapan yang dialami putrinya tersebut.

Ia berharap kasus ini bisa sampai persidangan.

Agar pelaku diberikan hukuman berat dengan perbuatan pelaku terhadap putri dan cucunya.

“Cucu saya Dian sampai menangis mengatakan, jika sudah dewasa nanti akan membalas perbuatan pelaku MS terhadap dirinya dan ibunya,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *