Kisah Mengharukan di Balik Perang Israel-Palestina: Pelukan Itu dan Salam Perpisahan Lewat Facebook

oleh -96 views

Transmetro – Ibrahim al-Talaa (17) tak menyangka masih diberi kesempatan hidup. Sudah sudah mengirimkan salam perpisahan melalui Facebook kepada teman dan keluarga besarnya.

“Saya mengirim pesan perpisahan kepada teman-teman dekat saya. Meminta mereka untuk tetap mengingat saya dan berdoa setelah saya mati,” tutur Ibrahim pasca gencatan senjata seperti dikutip dari Al Jazeera, Sabtu (22/5/202).

Ibrahim tinggal di kamp Mughazi di tengah Jalur Gaza. Pasca gencatan senjata, dia menceritakan hari terberatnya dalam serangan berdarah ketika jet tempur Israel menjatuhkan bom di dekat rumahnya.

Saat itu, dia merasa itu adalah akhir hidupnya dan orang-orang terkasih yang mengelilinginya.

“Pesawat tempur Israel membom banyak tempat berbeda di daerah saya dengan lebih dari 40 rudal berturut-turut. Tanpa mengeluarkan peringatan sebelumnya yang biasa mereka keluarkan dalam tiga perang terakhir. Suara pengeboman dan penembakan sangat menakutkan sehingga saya tidak bisa menggambarkannya,” kata Ibrahim.

“Saat bom jatuh, rumah itu bergetar seolah-olah akan menimpa kepala kami… Saraf saya runtuh dan saya hampir menangis, tetapi saya mencoba menahan diri. Hanya untuk memberi kekuatan pada keluarga saya. Saya melihat adik perempuan saya yang berusia 13 tahun menangis dalam diam. Aku memeluknya sebentar, mencoba menghiburnya. Saya membawakannya segelas air dan mencoba mengurangi rasa takutnya, meskipun saya sangat takut,” lanjut Ibrahim.

Setelah aksi militer Israel terhadap Gaza dimulai, keluarga Ibrahim, termasuk orang tuanya, empat saudara laki-laki, dan tiga saudara perempuan, berkumpul di satu ruangan. Berharap mereka semua akan selamat atau mati bersama.

Saat jet Israel menyerang, keluarga al-Talaa mulai mengucapkan selamat tinggal.

“Saat mendengar suara bom semakin dekat dan beberapa ambulans datang, kami saling berpamitan, lalu kami berpelukan dengan hangat,” kisah Ibrahim.

Remaja itu kemudian menulis postingan perpisahan di Facebook.

“Teman saya menelepon saya untuk memeriksa saya setelah saya mempostingnya, dan saya mengatakan kepadanya betapa saya mencintainya,” katanya.

“Sebagai seorang Palestina di Gaza, saya kehilangan hak sederhana saya untuk hidup dengan aman. Saya meminta teman saya untuk menyebarkan pesan saya bahwa saya tidak akan memaafkan manusia dan presiden mana pun di dunia ini yang mendukung pendudukan Israel,” tegas Ibrahim.

Ada lagi cerita Reem Hani (25). Dia tinggal di lingkungan Shuja’iyya bersama orang tua dan lima saudara kandungnya. Pada 14 Mei, militer Israel mulai menembaki perbatasan timur Kota Gaza sekitar 100 meter.

“Setelah empat jam, penembakan menjadi jauh lebih berat dan lebih dekat, menyerang secara acak ke segala arah,” katanya kepada Al Jazeera.

“Dengan gila, kakak laki-laki saya berteriak pada kami agar bergegas dan masuk ke dalam mobil. Kami membawa sekantong barang termasuk semua dokumen kami,” tuturnya.

Pada tahun 2014, Israel juga menyerang lingkungan Shuja’iyya dengan jet dan tank. Menghancurkan sebagian besar rumah hingga rata dengan tanah.

Saat melarikan diri dengan mobil ayah mereka kali ini, Reem menyaksikan pemandangan yang sama dari enam tahun sebelumnya dengan ratusan orang berlarian di jalanan. Beberapa tanpa alas kaki dan membawa anak-anak mereka, semuanya menuju ke barat Jalur Gaza.

Yang lainnya mengendarai sepeda motor, taksi, dan keledai, ledakan terus menerus menerangi kegelapan.

“Saya dan keluarga saya selamat pada tahun 2014, tetapi kami tidak menyangka kami akan selamat kali ini karena mereka melancarkan lebih dari 50 serangan udara di sekitar kami saat kami berada di dalam mobil. Saya terus memeluk adik laki-laki saya, menitikkan air mata, dan takut saya akan mati sebelum kami tiba di tempat tujuan,” kata Reem.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *