Larangan Mudik Lebaran, Komunitas Perantau Asal Sukabumi: Kami Kurang Setuju

oleh -113 views

Transmetro – Komunitas Perantau Asal Sukabumi (Kompas) adalah salah satu pihak yang protes dan keberatan terkait kebijakan larangan mudik lebaran 2021 oleh pemerintah. Pasalnya, momentum ini sangat ditunggu oleh para pekerja di luar daerah seperti mereka.

Pembina Pusat Kompas, Saiful Alam Aggand mengatakan, dari awal pemerintah mengumumkan larangan mudik, perantau asal Sukabumi yang tergabung dalam komunitas Kompas menolak dan menyayangkan putusan itu.

“Adanya larangan mudik ini saya kurang setuju, apalagi di momen Hari Raya Idulfitri yang disebut dengan hari kemenangan bagi umat islam. Sampai kapanpun tidak bisa dipisah dengan adat atau kebiasaan untuk merayakannya dengan keluarga,” ujarnya.

Menurut Aggand, larangan mudik tersebut sangat tidak masuk akal dan jika ingin memberlakukan larangan mudik dengan alasan virus Covid-19. Maka, seharusnya pemerintah harus benar dalam memberlakukan atau memperhatikan masyarakat agar tetap di rumah saja dengan beberapa persyaratan.

“Perusahaan industri tidak mempekerjakan karyawan selama waktu yang ditentukan, instansi pemerintan ditutup untuk sementara atau WFH (work from home),” jelasnya.

Selain itu, penyediaan pangan untuk masyarakat selama lockdown, sambung dia, penutupan tempat pembelanjaan atau toko seperti mall, cafe, dan sebagainya. “Terkecuali pasar untuk memenuhi kebutuhan pokok,” tegasnya.

Mudik lebaran itu, tambah dia, merupakan agenda pribadi keluarga masing-masing moment dimana semua keluarga berkumpul. “Satu kerugian dan jadi satu tragedi jika saat semua keluarga berkumpul tapi kami (para perantau) tidak bisa pulang ke tanah kelahiran. Jadi menurut saya sih diperbolehkan yang penting patuh dengan prokesnya,” paparnya.

Pembina Pusat Kompas lainnya, H odjon menambahkan, para perantau di berbagai daerah, sebetulnya semua ingin sekali saat hari raya idul fitri berkumpul bersama keluarga seperti tahun sebelumnya, meskipun keadaan pandemi Covid-19 masih sangat meningkat waktu itu.

“Namun kita juga sebagai warga negara Indonesia harus patuh dengan apa yang sudah diatur pemerintah, karena kita sayang akan keluarga kita yang di kampung. Sebab, ditakutkan juga kita yang dari perantauan terpapar Covid-19, tanpa kita sadari sehingga akan besar potensi cepatnya penularan virus ini di kampung halaman yang kita cintai,” ungkapnya.

Maka dari itu, ia menyarankan untuk itu mengiikuti aturan dari pemerintah terutama kepada para perantau khususnya orang Sukabumi yang memang tidak bisa pulang.

“Sementara ini kita komunikasi dengan keluarga melalui media sosial WA, Zoom dan lain-lain. Memang ini sangat sedih bagi kita di moment ini kita tidak bisa berkumpul akan tetapi ini demi kesehatan kita dan kluarga kita juga. Kami yakin pemerintah juga menginginkan yang terbaik,” tandasnya. (garis/rs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *