Teror Ular Tanah di Bantargadung Sukabumi 20 Korban 1 Meninggal 1 Putus Jari Tangan

oleh -169 views

Transmetro – Serangan Ular berbisa teror warga Kampung Bojongsoka, Desa Limusnunggal, Kecamatan Bantargadung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat.

Puluhan kasus serangan hewan berbisa ini terjadi sepanjang Januari hingga Juni 2021 bahkan seorang warga tewas akibat bisa ular.

sedikitnya 20 orang warga Desa Desa Limusnunggal jadi korban teror ular sepanjang tahun ini, satu korban tidak tertolong meninggal dunia, dan satu korban lainnya mengalami pembusukan pada tangan hingga jari terputus akibat racun ular, Sabtu (12/6/2021).

Kepala Desa Limusnunggal, Rusman menyebut ular yang meneror warga merupakan jenis Ular tanah atau warga setempat sebut Oray Gibug.

Kades menyebut banyak warga yang telah menjadi korban gigitan ular berbisa ini dalam setahun terakhir.

Aktivitas warga setempat didominasi oleh Petani dengan geografis Desa yang memiliki areal pertanian dan perkebunan.

Belum diketahui secara pasti penyebab hewan melata berbisa ini meneror warga setempat dalam setahun terakhir.

Menurut Rusman salah satu kemungkinan penyebab populasi ular tanah ini meningkat diduga akibat adanya Perkebunan Jati yang menjadi sarang mereka.

“Kami bukan menyangka ke Perkebunan Jati, tetapi setelah adanya pohon jati di wilayah Desa Limusnunggal sekarang ini banyak Ular Gibug. Warga kami dari tahun ke tahun selalu ada korban termasuk beberapa waktu lalu ada yang digigit juga,” ungkap Rusman.

Dihimpun dari berbagai sumber, Ular tanah (Calloselasma rhodostoma) merupakan jenis ular predator penyergap yang cukup agresif.

Hewan melata yang pintar berkamuflase di tanah ini tergolong sebagai Ular malas, kebiasaanya hanya menunggu mangsa dan tidak banyak bergerak.

Hewan nocturnal (aktif malam hari) ini habitatnya di hutan belukar, semak semak, dan kawasan pertanian yang lembab dan kurang terurus (rerumputan).

Gigitan ular berbisa ini dapat menimbulkan pembengkakan hingga kematian jaringan, sebagain kasus gigitan ular ini dapat menyebabkan korban mengalami kerusakan (disfungsi) anggota badan bahkan sebagian kasus menyebabkan korban diamputasi akibat keterlambatan pengobatan menggunakan serum anti bisa ular (Sabu).

Tercatat seorang warga desa Limusnunggal meninggal dunia dan satu korban lain meninggalkan luka cacat akibat serangan Ular Gibug ini.

Menurut Kades Limusnunggal, warganya yang digigit ular rata-rata enggan berobat ke rumah sakit lantaran mahalnya serum anti bisa ular dan jarak tempuh yang cukup jauh menuju RSUD Palabuhanratu Sukabumi.

Kades meminta Pemerintah Daerah dan Instansi terkait untuk melakukan upaya pengadaan Sabu di Puskemas Bantargadung untuk mengantisipasi jika ada warga yang digigit ular mengingat jarak Rumah Sakit cukup jauh sementara racun ular terus menjalar di tubuh korban.

Dengan adanya teror serangan ular, Rusman imbau warganya untuk meningkatkan kewaspadaan terutama saat melakukan aktivitas kerja di kebun.

“Setelah ada serangan ular ini, warga yang ingin ke kebun takut. Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat Desa Limusnunggal, khususnya petani yang berangkat ke kebun agar menggunakan perlengkapan pertanian, misalnya alas kaki menggunakan sepatu bot dan sebagainya,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *