Menkeu Purbaya Sebut Rupiah Tertekan Meski Fundamental di Nilai Aman, Nilai Tukar Nyaris Rp 17.900 Per Dolar AS.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan keterangan pers usai pertemuan dengan Presiden Prabowo di Istana Merdeka, Jakarta, pada Rabu, 10 September 2025. (Foto: BPMI Setpres)

Sukabumi Transmetro.id – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan hebat. Di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan sentimen negatif dari pasar keuangan, kurs rupiah terus merosot hingga mendekati level Rp 17.900 per dollar Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan pantauan TribunTrends pada Kamis (28/5/2026), nilai tukar rupiah di pasar spot berada di level Rp 17.865 per dollar AS pada pukul 23.15 WIB.

Pelemahan yang terus berlangsung ini memicu perhatian banyak pihak, termasuk pemerintah. Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa bahkan mengaku heran melihat kondisi rupiah saat ini.

Menurut dia, secara fundamental ekonomi Indonesia sebenarnya masih berada dalam kondisi baik sehingga pelemahan tajam rupiah dinilai tidak wajar.

“Sebenarnya tidak masuk akal, biasanya melemah kalau ada gangguan di fundamental ekonomi,” kata dia di kawasan Masjid Salahuddin, Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak (DJP), Rabu (27/5/2026).

Rupiah Tertekan Meski Fundamental Dinilai Aman

Pernyataan Purbaya muncul di tengah kekhawatiran pasar terhadap tekanan yang terus membebani mata uang Garuda.

Baca Juga  KH. Muhajir Bangga, Bukber JPKPN Bogor Raya kali Ini Santuni Yatim

Normalnya, pelemahan nilai tukar terjadi ketika kondisi ekonomi suatu negara mengalami masalah serius, mulai dari inflasi tinggi, defisit besar, hingga ketidakstabilan fiskal maupun politik.

Namun menurut Purbaya, kondisi Indonesia justru tidak menunjukkan tanda-tanda gangguan fundamental yang berat. Karena itu, ia menilai tekanan terhadap rupiah lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal dan sentimen pasar global.

Meski demikian, pemerintah memastikan pelemahan rupiah saat ini masih berada dalam skenario yang telah diperhitungkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), termasuk simulasi harga minyak dunia yang mencapai 100 dollar AS per barrel.

“Jadi tidak ada masalah, saya tidak harus hitung ulang APBN-nya,” imbuh dia.

Pemerintah Klaim Pasar Obligasi Masih Terkendali

Di tengah pelemahan rupiah, pemerintah menilai kondisi pasar obligasi domestik masih relatif aman. Purbaya menjelaskan, imbal hasil surat utang atau bond yield justru mengalami penurunan.

Menurut dia, hal itu dipengaruhi langkah pemerintah yang melakukan pembelian untuk menjaga stabilitas pasar obligasi agar tetap menarik bagi investor.

Baca Juga  Kemenkeu Beri Penjelasan Terkait Pernyataan Menkeu Purbaya Usul MBG di Ganti Dengan Uang Tunai.

“Jadi selama bond market terkendali, kemampuan investor terutama asing dan domestik juga untuk melakukan investasi di bond kita akan terjaga,” terang dia.

Purbaya juga mengaku mulai melihat adanya aliran modal asing yang masuk ke pasar obligasi Indonesia. Kondisi itu dinilai menjadi sinyal bahwa kepercayaan investor terhadap instrumen keuangan Indonesia belum sepenuhnya hilang.

Meski tekanan terhadap rupiah terus berlangsung, pemerintah memastikan masih akan melakukan berbagai langkah untuk memperkuat nilai tukar mata uang nasional.

Purbaya mengungkapkan, pemerintah sedang menyiapkan kebijakan lanjutan yang diyakini dapat membantu penguatan rupiah secara signifikan dalam waktu mendatang.

“Ke depan akan ada tindakan pemerintah lagi yang akan membantu menaikkan nilai tukar rupiah dengan signifikan,” tutup dia.

Sentimen Global dan Timur Tengah Tekan Rupiah.

Pelemahan rupiah juga dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik internasional. Pada awal perdagangan Kamis (28/5/2026), rupiah sudah terdepresiasi 69 poin atau 0,39 persen ke level Rp 17.870 per dollar AS pada pukul 09.48 WIB.

Baca Juga  Muhasabah Diri Mengenang Dosa Masalalu Yang Pernah Dilakukan.

Sebelumnya, pada perdagangan Rabu (27/5/2026), rupiah juga ditutup melemah 0,03 persen ke posisi Rp 17.801 per dollar AS.

Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, penguatan dollar AS menjadi faktor utama yang menekan rupiah.

Dollar AS menguat setelah pemerintah Amerika Serikat melakukan penyerangan ke Iran, yang kemudian memperburuk harapan terciptanya perdamaian di kawasan Timur Tengah.

Selain faktor global, sentimen negatif dari dalam negeri juga dinilai masih membayangi pasar. Pelemahan pasar saham dan belum pulihnya kepercayaan investor turut menjadi tekanan tambahan terhadap rupiah.

“Rupiah diperkirakan akan melemah terhadap dollar AS yang menguat. Pelemahan rupiah di kisaran Rp 17.750-17.900,” ujar dia.

Kondisi ini membuat pasar semakin waspada terhadap pergerakan rupiah dalam beberapa waktu ke depan, terutama jika tensi geopolitik global terus meningkat dan sentimen domestik belum menunjukkan pemulihan yang kuat.*

Source: tribunnews.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *