Jakarta Transmetro.id – Atur tingkat kepedasan, banyakin toping seafood keju sama ayam, terus kerupuk sama telurnya juga minta tolong dibanyakin ya.
Itulah salah satu contoh permintaan dari pembeli makanan populer (Seblak), yang kehadirannya cukup merebak di berbagai daerah.
Rasa pedas dari cabai dan kekayaan rempah dalam seblak dapat memberikan sensasi yang mengagetkan saat pertama kali mencicipinya. Namun tidak sedikit dari mereka yang terlalu sering konsumsi makanan penuh tingkat level kepedasan itu yang pada akhirnya harus menjalani perawatan di Rumah Sakit (RS).
Hal tersebut bahkan di benarkan oleh dr. Mariska Haris. Menurutnya, pasien datang disebabkan makan seblak dalam frekuensi yang berlebihan.
Ia juga menyebut bahwa Indonesia saat ini bisa dikatakan darurat sebak. Hal ini disebabkan oleh banyaknya pasien yang ditangani karena overdosis seblak.
Saat berdialog di ruang praktik, seorang pasien mengakui makan seblak sehari bisa dua hingga tiga kali. Sementara si pasien mengaku makan nasi bila ingin saja, bahkan sering tidak makan nasi.
Pasien lainnya, seorang wanita 17 tahun, selalu mengonsumsi seblak dengan level yang sangat tinggi. Pasien muda ini bisa makan seblak dua minggu berturut-turut.
“Keluhan pasien mual muntah dan sakit perut hebat. Ini mengakibatkan kolik abdomen akibat gastritis erosif. Jadi BAB sudah mulai hitam-hitam,” ucapnya dikutip dari akun TikTok, Jumat (5/9/2025).
Dokter Mariska mengkhawatirkan angka stunting di Indonesia akan semakin tinggi karena kesadaran mengonsumsi makanan bergizi di kalangan calon ibu belum berjalan maksimal. Dalam akunnya, dr. Mariska kerap membagikan kisah para pasien yang sakit karena overdosis seblak.
“Sesuatu hal yang berlebihan itu tidak baik. Kemarin juga ada pasien yang mengonsumsi kopi 30 gelas. Ini bukan salah makanannya, tapi salah dalam mengonsumsinya,” tegas dr. Mariska.
Erosive gastritis adalah bentuk kerusakan mukosa lambung yang ditandai oleh adanya erosi atau perdarahan superfisial pada mukosa, biasanya disebabkan oleh faktor yang melemahkan barier pertahanan mukosa terhadap asam dan pepsin. Lesi sering multipel dan dapat berkembang cepat (akut).
Dikutip dari Merck Manual of Gastroenterology, erosive gastritis adalah bentuk kerusakan mukosa lambung yang ditandai oleh adanya erosi atau perdarahan superfisial pada mukosa, biasanya disebabkan oleh faktor yang melemahkan barier pertahanan mukosa terhadap asam dan pepsin. Lesi sering multipel dan dapat berkembang cepat (akut).
Penyakit ini memiliki gejala ringan, yakni epigastralgia, mual, muntah. Sementara gejala utamanya adalah perdarahan saluran cerna atas (hematemesis, melena, anemia).







