Sukabumi Transmetro.id – Ketua Tim Penggerak PKK Kota Sukabumi, Ranty Rachmatilah, mengajak para siswa untuk membangun karakter, memperkuat akhlak, dan mengendalikan penggunaan teknologi sejak dini sebagai bekal menghadapi masa depan.
Pesan tersebut disampaikannya saat mengikuti program PKK Goes to School dalam kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMP Negeri 7 Kota Sukabumi, Selasa (14/7/2026).
Kegiatan MPLS Tahun Ajaran 2026/2027 mengusung tema “Membentuk Karakter Siswa menjadi Pelajar yang Mencintai Lingkungan, Beriman dan Berakhlak Mulia.”
Kehadiran TP-PKK Kota Sukabumi menjadi bagian dari upaya memperkuat pendidikan karakter sekaligus mendukung tumbuh kembang peserta didik melalui kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Dalam pemaparannya, Ranty mengingatkan pentingnya mengisi pikiran dengan hal-hal yang bermanfaat.
Ia mengajak para siswa membangun kebiasaan belajar melalui enam bekal utama, yakni menambah pengetahuan baru, membentuk akhlak yang baik, membiasakan berbicara sopan, mengembangkan kemampuan berpikir kritis, menumbuhkan empati, serta meningkatkan kreativitas.

Ia menjelaskan bahwa masa SMP merupakan periode penting dalam perkembangan otak.
Pada fase tersebut, kemampuan mengatur fokus, mengendalikan emosi, mengambil keputusan, berpikir sebelum bertindak, serta membedakan baik dan buruk berkembang dengan sangat pesat.
Karena itu, lingkungan belajar yang positif menjadi faktor penting dalam membentuk karakter peserta didik.
Ranty juga menyoroti tantangan yang dihadapi generasi yang tumbuh di era gawai, permainan daring, dan media sosial.
Teknologi, katanya, bukan sesuatu yang harus dihindari, tetapi perlu digunakan secara bijak agar tidak menimbulkan ketergantungan terhadap kesenangan instan.
Kebiasaan memperoleh hiburan dengan cepat dapat memengaruhi cara kerja otak sehingga anak menjadi kurang sabar menghadapi proses yang membutuhkan usaha dan ketekunan.
Ia menjelaskan bahwa secara psikologis penggunaan gawai memicu pelepasan dopamin, yaitu zat kimia di otak yang menimbulkan rasa senang saat memperoleh pengalaman menarik, seperti memenangkan permainan atau menerima respons di media sosial.
Apabila berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut dapat membentuk kebiasaan mencari kepuasan secara instan.
Mengakhiri pemaparannya, Ranty mengajak guru dan orang tua memperkuat sinergi melalui pendampingan belajar, termasuk menyediakan kelas tambahan bagi siswa yang masih tertinggal dalam kemampuan dasar membaca, menulis, dan berhitung.
Ia juga mengingatkan para siswa untuk menjauhi perundungan dan pergaulan bebas serta mempersiapkan diri sejak sekarang karena masa depan akan ditentukan oleh proses belajar yang dijalani hari ini.
“Dunia tidak hanya membutuhkan orang yang pandai menggunakan teknologi, tetapi juga mereka yang mampu mengendalikan teknologi, bukan dikendalikan olehnya,” pungkasnya.*







