Di sebuah sudut sepi yang dipenuhi rumput liar, seekor kucing putih berbaring lemah di atas tanah basah. Ia memeluk sebuah papan kayu kecil yang menancap di tanah—seolah itu adalah satu-satunya sisa dari sesuatu yang dulu berarti baginya.
Papan itu bukan sekadar kayu bagi si kucing. Itu adalah penanda sederhana. Tempat di mana sahabat sejatinya dimakamkan. Teman yang dulu selalu membelainya, memberinya makan, memberinya cinta. Kini hanya tinggal kenangan yang dingin dan sunyi.
Kucing putih itu tidak mengerti mengapa dunia terasa begitu kosong. Ia hanya tahu satu hal: kehangatan yang dulu mengisi hari-harinya telah pergi, terkubur di bawah tanah yang kini dipeluknya dengan erat. Setiap cakar kecilnya mencengkeram papan kayu itu dengan penuh harap, seakan berharap bisa menarik kembali waktu, bisa membawa kembali tawa dan belaian itu.
Dengan mata berkaca-kaca, ia menggesekkan wajah mungilnya ke papan, mencari jejak aroma yang sudah mulai pudar. Dalam hatinya yang polos, ia berbisik tanpa suara, “Aku di sini… aku belum pergi… tolong bangunlah…”
Namun dunia tetap diam. Hanya angin yang menjawab, membawa pergi harapannya satu per satu.dikutif facebook Amina gio shardhi
Di atas tanah merah yang basah, seekor kucing putih menunggu dalam pelukan terakhirnya—untuk cinta yang telah pergi… dan takkan pernah kembali.
Red/fc/Amina gio shardhi


