Transmetro.id – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi alias (KDM) merasa kecewa terhadap kinerja Pemerintah Desa Cianaga, Kecamatan Kabandungan, Kabupaten Sukabumi, yang mengakibatkan bocah berusia 3 tahun harus meninggal dengan kondisi begitu tragis.
Hal itu di ungkapkan dalam Rapat Paripurna DPRD Provinsi Jawa Barat ke-80, pada Selasa (19-08-2025). Bahkan KDM tidak segan untuk menunda bantuan terhadap desa tersebut sebagai salah satu bentuk hukuman.
Menurutnya, kasus kematian Raya, bocah 3 tahun asal Kampung Padangenyang RT 06/03, Desa Cianaga itu, jadi salah satu bukti kuat akan kurangnya pelayanan di wilayah Pemerintahan Desa (Pemdes) tersebut.
“Hari ini kita punya derita seorang anak bernama Raya, berumur tiga tahun, berasal dari Kabupaten Sukabumi. Ibunya ODGJ, bapaknya sakit TBC, dan anak itu tiap hari hidup di kolong rumah. Ia meninggal di rumah sakit dengan seluruh cacing keluar dari mulut dan hidungnya. Betapa kita gagal, betapa kita lalai,” kata Dedi dalam video Youtube DPRD Jawa Barat.
Selain itu, KDM juga menyoroti betapa lemahnya perangkat birokrasi di tingkat desa hingga RT. Pasalnya perangkat birokrasi tingkat RT itu tidak bisa membangun empati.
“Kenapa manusia tidak terbangun dalam nalar dan rasa? Semua orang sibuk bicara anggaran, semua orang bicara keuangan, tapi lupa bahwa di balik anggaran ada rasa dan cinta. “ujar KDM.
“Betapa kita gagap dan lalai. Perangkat birokrasi yang tersusun sampai tingkat RT ternyata tidak bisa membangun empati,” ucap KDM menambahkan.
KDM juga menyebut, kasus Raya bukan sekadar masalah kemiskinan, melainkan hilangnya sensitivitas pemerintah lokal terhadap penderitaan warganya.
“Saya memutuskan, terhadap desa itu, saya tunda bantuan desanya, karena desanya tidak mampu mengurus warganya. Kasus Raya bukan musibah biasa, ini tragedi kemanusiaan yang membuka wajah asli birokrasi kita, ”jelasnya.*







