Terdesak Faktor Ekonomi Jadi Salah Satu Penyebab Konsumsi Makanan Kurang Bergizi.

Terdesak Faktor Ekonomi Jadi Salah Satu Penyebab Konsumsi Makanan Kurang Bergizi. Ilustrasi Foto

Transmetro.id – Sebagian besar anak muda Indonesia diketahui mengedepankan makanan murah yang terbilang cukup mengenyangkan, tanpa memperhatikan seberapa besar kandungan gizi didalam nya. Hal tersebut mengarah kepada segi faktor ekonomi yang disinyalir menjadi salah satu penyebab utama.

Menurut Fix My Food dan UNICEF, pada laporan terbarunya menemukan 27 persen anak muda Indonesia mengutamakan makanan murah dan mengenyangkan, tanpa memperhatikan kandungan gizinya.

Peneliti Fix My Food Syafa Syahrani mengatakan, hal ini menunjukkan bahwa tekanan ekonomi menjadi faktor utama yang mendorong pola makan tinggi kalori namun rendah gizi, terutama di kalangan pelajar dan mahasiswa.

” Mereka lebih memilih makanan cepat saji atau camilan kemasan yang bisa dibeli dengan harga terjangkau, meski nilai gizinya minim,” kata Syafa dalam diskusi tentang Diseminasi Hasil Studi Pemasaran Makanan Tidak Sehat yang digelar secara daring, Kamis (10-07-2025).

Baca Juga  HUT ke-53 RSUD Sekarwangi: Marwan Hamami Dorong Peningkatan Mutu dan Inovasi Layanan Kesehatan

Sementara itu, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmizi, mengungkapkan bahwa perubahan pola makan masyarakat, khususnya di kelompok ekonomi menengah ke bawah, semakin condong pada makanan instan dan olahan.

” Fenomena ini bukan hanya terjadi di kalangan pelajar, dari berbagai studi dan pengamatan, kita melihat bahwa keluarga dengan pendapatan ekonomi menengah ke bawah justru mengalami perubahan pola makan ke arah makanan cepat saji lebih tinggi dibanding keluarga berpendapatan tinggi,” ujar Nadia.

Hal ini tak lepas dari pertimbangan waktu dan efisiensi. Di tengah kesibukan dan tekanan ekonomi, banyak keluarga memilih membeli makanan siap saji yang tinggal santap tanpa perlu repot memasak, dikutip cnnindonesia, Kamis (17-07-2025).

Baca Juga  Cukup Dengan Tiga Bahan Dapur, Ramuan Tradisional Ini Dipercaya Baik Untuk Kesehatan.

Kepraktisan menjadi daya tarik utama, apalagi dengan harga yang relatif lebih murah dibanding memasak dengan bahan segar.

Namun, Nadia mengingatkan bahwa pola konsumsi semacam ini menyimpan risiko besar bagi kesehatan.

” Kalau dikaitkan dengan penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, dan kolesterol, pola makan instan yang minim gizi ini menjadi salah satu pemicunya. Apalagi sekarang aktivitas fisik masyarakat juga semakin berkurang karena gaya hidup digital,” paparnya.

Kebiasaan ini bukan hanya persoalan pilihan, tetapi juga cerminan tantangan struktural dalam sistem pangan dan ekonomi masyarakat. Saat harga sayur, buah, dan makanan segar terus naik, sedangkan makanan olahan tetap terjangkau, masyarakat pun cenderung mengambil jalan yang paling mudah dan murah.

Baca Juga  Tingkatkan Kesehatan Dan Daya Ingat, Ketua TP-PKK Kota Sukabumi Hadiri Senam Bersama Kebugaran Lansia Pralansia Indonesia.

” Kondisi ini memerlukan perhatian serius. Di satu sisi, perlu ada edukasi gizi dan kesadaran masyarakat akan pentingnya pola makan sehat. Di sisi lain, negara perlu mendorong akses terhadap makanan bergizi yang lebih terjangkau, terutama untuk kelompok rentan,” kata dia.

“Tanpa upaya yang menyeluruh, ketimpangan akses pangan akan terus melanggengkan lingkaran konsumsi makanan tidak sehat di Indonesia,” tutup Nadia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *